Jumat, 31 Januari 2014

Cerpen Lingkungan - Mencabik Luka di Negeri Neraka



Mencabik Luka di Negeri Neraka
Oleh : Roudlotul Dzihni
MAN Tambakberas Jombang

          Langit Jogjakarta meraung bak negeri seribu angkasa. Meratapi setiap jengkal  berhasta kuda. Mendung datang bergulung-gulung seakan hendak menyapu daratan langit yang maha dahsyat luasnya. Jilatan cahaya putih silih berganti berebut menyinari daratan muka bumi yang sebenarnya tak dikehendaki kehadirannya oleh penghuni bumi. Cacing-cacing tanah bersembunyi dibalik lorong-lorong permukaan daratan bumi yang kian menunjukan kejelataannya. Jangankan Cacing, debupun seakan tak lagi punya nyali untuk beterbangan menjelajahi atmosfer bumi.
          Malam itu mencekam bagai sangkar burung hantu yang tak memperbolehkan penghuninya untuk keluar. Begitupun jua denganku,rasanya tak punya nyali walau hanya untuk sekedar menengok kondisi di luar sana. Yang bisa kulakukan hanyalah duduk di dipan tua yang telah kupakai sejak beribu-ribu hari yang lalu. Sarung coklat tua yang setia bersandar miring di pundakku seakan memberikan kesan betapa mirisnya suasana hatiku malam ini. Kupandangi wanita yang 19 tahun lalu berjuang untuk melahirkanku dengan perasaan sayang yang luar biasa kepada wanita hebat satu ini. Dialah ibuku. Kursi roda tua tempat beliau menopang hidupnya juga masih setia menemaninya. Ibuku memang lumpuh  sejak 15 tahun lalu karena tertimpa batang pohon sewaktu terjadi tanah longsor di daerahku. Tempatku memang rawan longsor. Setelah tragedi itu, ayahku tak mau lagi mengurusi kami. Dia pergi tanpa dosa meninggalkan kami.  Ayah macam apa dia yang tega meninggalkan anak dan istrinya yang termangu sendiri. Rumah kami pun tak terlalu strategis untuk dijangkau. Bagaimana tidak, rumah kami terletak di pinggiran hutan dan di kelilingi oleh sungai-sungai besar. Dulunya tempat ini memang banyak penduduknya. Akan tetapi, lama-kelamaan satu-persatu dari mereka pindah ke tempat yang lebih layak huni. Kebanyakan dari mereka membangun rumah lagi di daerah perkotaan dan pergi meninggalkan kampung halamannya yang menampung mereka sewaktu kecil. Mungkin hanya sekitar 8 kepala rumah tangga yang masih sudi untuk menempati kompleks ini,dan itupun radius sekitar 1 km dari gubukku.
          Sewaktu ayahku meninggalkan kami, aku baru berusia 5 tahun. Tahu  soal apa aku umur 5 tahun. Mungkin aku hanya anak kecil ingusan yang tak tahu dan tak mau tahu mengapa ayahku melenggang pergi. Jangankan untuk mengingat hal itu, mengingat wajahku waktu itupun aku tak ingat sama sekali. Ibuku lumpuh, ayah pergi entah dimana. Ya tuhan.... aku tak membayangkan bagaimana hidupku, hingga aku bisa mencapai usiaku kini. Bagaimana makanku, bagaimana mandiku, bagimana pakaianku. Ya tuhan, setragis itukah nasibku dulu?. Menurut cerita ibu, selama kurang lebih satu tahun, tetangga kanan kiri yang iba melihat ketragisan nasib kamilah yang kadang membantu kami walau hanya sekedar sebungkus nasi dan selembar uang seribuan.
          Malam semakin larut, tetapi mata ini seakan tak bisa terpejam walau hanya sekedar untuk mendinginkan jiwaku yang lelah. Kupaksakan mataku untuk terpejam. Dalam lelapku, aku bermimpi bertemu dengan seorang pak tua mendatangiku yang tiba-tiba memberi petuah kepadaku. “Wahai anak muda, pergilah kau ke tengah hutan. Datangilah hutan itu setiap hari selagi kau belum menemukan sesuatu yang merubah hidupmu. Pergilah kesana, maka kau akan menemukan jati dirimu.” Dan tiba-tiba pak tua tersebut menghilang dan akupun terkejut dan langsung terbangun.
          Fajar telah mengintip di balik jeruji safana. Matahari seakan masih malu untuk menunjukkan semburat merahnya. Burung pagi berkicau kesana kemari kian menunjukkan kasan pagi yang makin mendekati cerah. Tak ketinggalan, ayampun mulai mengobrak-abrik segala penjuru untuk sekadar mendapatkan cemilan pagi bagi dirinya dan anak-anaknya. Suasana semalam yang mencekam bagai hilang ditelan ombak dan berganti dengan suasana pagi yang cerah sebagai awal menjalani proses kehidupan yang kian hari kian menantang. Kulangkahkan kakiku menuju kamar mandi dan mengambil air wudlu. Langsung kutunaikan kewajibanku sebagai seorang muslim. Tanpa sadar, pikiranku melayang pada petuah kakek tua dalam mimpiku. Segeraku meminta izin pada ibuku dan izin sudah kukantongi. Dan dengan bekal seadanya, kulangkahkan kakiku menuju hutan tersebut. Udara pagi masih menusuk diselaput kulit ariku. Bulu kudukku seakan berdiri, bukan karena setan, melainkan karena pori kulitku seakan yang ingin ambil bagian untuk menikmati udara pagi ini. Deretan pegunungan makin mempercantik panorama pagi ini. Kicauan burung dan katak seolah bersahutan untuk memberikan nuansa alami. Sungguh tenang jiwa ini. Bahkan terbersit benak mengapa orang-orang rela meninggalkan kampung ini demi perkotaan yang penuh dengan polusi. Jika alasan pekerjaan, bukankah disana lebih ekstrim. Tanpa kemampuan yang memadai,mereka nekad pergi ke kota dengan alasan mencari penghidupan yang layak. Mungkin juga banyak dari mereka yang lebih tragis hidupnya dibanding diriku. Bukankah mereka juga bisa memanfaatkan hasil alam dari hutan jati disini. Hah... sudahlah, itu urusan mereka.
          Sesampainya di hutan, kulihat batang-batang kayu dan dahan berjatuhan diatas daratan yang tak berdosa. Daun-daun tua berguguran seakan tak kuat lagi menahan terpaan angin semalam yang hendak meluluh lantakkan safana. Tiba-tiba terbersit niat untuk membawanya pulang. Kukumpulkan batang demi batang hingga terkumpullah ikatan simpul sebongkok kayu. Akhirnya kubawa pulang dan timbul niatan untuk membangun lagi sepetak gubuk tua dari kayu jati hasilku mencari di hutan.
“Ibu, jikalau ibu mengizinkan, aku akan membuat sepetak gubuk lagi di samping gubuk tua kita ini.” Pintaku pada ibu.
Baiklah Afnan anakku, lakukanlah sesuka hatimu. Tapi ingat pesan ibu, kau tak boleh mengambil lebih dari hutan itu. Ambillah sesuai kebutuhanmu. Jangan kau rakus pada alam, niscaya alam akan murka kepadamu.” Petuah ibu kepadaku.
 “Baiklah ibu,nasehatmu adalah penerang dalam hidupku. Afnan izin dulu bu!”
          Sedikit demi sedikit rekonstruksi bangunan rumahku mulai terlihat. Memang tak layak disebut sebagai rumah,melainkan hanya tempat untuk bersandar dari segala penat,tempat berteduh dari terik matahari dan hujan, serta pelindung dari serangan binatang buas. Hari demi hari ku lalui. Tetapi aku masih sibuk mencari reruntuhan dahan pohon yang berjatuhan ditempat usangnya daratan. Dan untuk memenuhi kebutuhanku dan ibuku, aku memancing ikan, dan hasilnya kumakan dengan ibuku. Itu sudah cukup bagi kami dari pada harus pergi keluar kota. Dan aku mulai sadar jika kita bersahabat dengan alam, niscaya alam akan bersahabat dengan kita. Selama berhari-hari itu pulalah aku tidak ingat sama sekali dengan kakek dalam mimpiku itu. Apa arti dari perkataannya, dan siapa yang dimaksud. Tapi aku tak berusaha mencari, aku tak terlalu penasaran dengan itu. Dan kini prioritas utamaku adalah bagaimana caranya agar aku secepatnya bisa menyelesaikan pembangunan gubuk baruku. Agar ibuku tak lagi menggigil kedinginan diwaktu malam. Tak lagi kebocoran jika hujan datang. Semua ini kulakukan hanyalah untuk ibuku seorang.
          Suatu ketika,seperti biasanya aku pergi ke hutan. Tak seperti biasanya. Aku merasakan hawa hangat menyelimuti ragaku. Makin dekat radiusnya, makin besar derajat suhu celcius yang kurasakan. Embun pagi yang dulu menenangkan jiwa bagi insan yang menghirupnya, kini bagai gas monooksida yang siap menggerogoti kerongkongan. Rasanya bagai setonggak debu amarah yang membunuh ketenangan kalbu. Fajar di ufuk timur yang dulu menunjukkan semburat orange alaminya, kini bagaikan tumpukan infra merah yang menyala dengan terangnya. Aku mulai curiga dengan keadaan itu. Kuamati dari dekat. Mendekat dan semakin mendekat. Terlihat truk-truk pengangkut kayu jati berusia puluhan tahun lalu mengangkut kayu jati yang tanpa daya pasrah dengan nasib berjejer-jejer bak gulungan molen. Kuterawang lebih jauh, terlihat sang ajudan yang dengan bangganya mengomandoni pasukan tikus-tikus jelata yang tanpa ampun membombardir hutan tersebut. Sekilas aku mencium bau bubuk mesiu yang siap ledak.
          Dasar manusia-manusia biadab. Setelah mengeksekusi dan meluluh lantakkan hutan jati tersebut, ledakan mesiu yang memekakkan telinga tedengar disegala penjuru. BUMMM......  seketika itu pulalah lagit yang semula masih sayu akibat matahari yang enggan muncul di pagi buta,menjadi merah bak semburan sang raja naga yang siap menerkam apapun dihadapannya. Dan ketika itu pulalah hutan jati bagai lautan api yang tanpa permisi melahap potongan-potongan batang jati yang masih menyerumbul di permukaan tanah. Biadab.... dasar manusia-manusia tanpa akal.
          Sejenak pikiranku melayang pada ibuku yang terbaring lemah di dipan usang. Lalu naluriku tersentak. Jiwaku tergoncang. Ingin rasanya aku di dekat ibu. Akhirnya aku memutuskan untuk kembali ke rumah. Dengan sekuat tenaga,aku berlari mangarungi lautan asap akibat ledakan tadi. Suara letupan api dan bau daun gosong mengiringi langkahku menuju kepangkuan sang bunda. Tak berbeda jauh denganku, burung-burungpun berhamburan seakan tahu maut telah membayanginya. Tak ku perhatikan sekelilingku,entah apa yang aku lewati. Pikiranku hanya terpusat pada ibu, ibu, dan ibu.
          Entah seberapa mil aku berlari mengarungi lautan asap itu. Entah berapa joule energi yang kuhabiskan. Akhirnya,sampai pulalah aku di gubuk tuaku. Seketika itu pulalah hatiku menjerit. Pikiranku memekikkan suara kalbu yang tak lagi bernada. Ribuan peluru bak memenuhi tiap rongga paru-paruku.
IBU.....................
          “Dasar manusia biadab, hewan kalian.... !”.
Kulihat gubuk tuaku telah luluh lantak akibat kobaran api yang menjilat. Kini tinggal puing-puing sejarah yang meninggalkan bekas yang membuktikan bahwa aku pernah tinggal disini. Kucari ibuku. Tapi tak kutemui. Ku panggil namanya, tapi tak ada sahutan. Yang ada hanyalah sahutan daun terbakar di sisi rumah. Bagaimana tidak, gubukku hanya terbuat dari dahan bekas yang kutemui di hutan. Sekali sulut semua langsung ludes. Aku menemukan kursi roda yang biasanya digunakan ibuku. Kini tinggal puing. Kucari ibuku, tapi tak kutemui, yang ada hanyalah cincin emas yang tergeletak didekat kursi tersebut. Kuamati,tercium bau gosong daging. Aku berspekulasi jika itu adalah ibuku. Ya tuhan... dia ibuku... kukumpulkan sisa-sisa tulang beliau. Aku memendamnya didekat gubuk tuaku.
          Aku tak terima. Akupun mendatangi ajudan tadi yang kebetulan masih ada di tempat aku melihatnya. Aku datang padanya dengan muka tak berbentuk.
“Wahai bangsa kera, tidakkah kalian punya naluri kemanusiaan. Dasar biadab”. Suaraku dengan lantangnya menantang sang ajudan.
“Wahai anak muda, berani sekali kau berkata seperti itu pada kami. Siapa kau hingga berani-beraninya berkata seperti itu pada kami”.
“Anda tak perlu tahu siapa saya. Yang perlu anda ketahui, diseberang sana tempat gubuk saya berdiri, telah anda kotori dengan tangan jahil anda. Yang lebih membuatku tak terima adalah ibuku, keluargaku satu-satunya yang kau bakar hingga kini tak berbekas”. Suaraku parau ditengah isak tangisku.
“Oooo... jadi hanya masalah seperti itu yang kau ajukan pada kami. Heh,bocah tengil. Kami bukan dukun yang bisa menghidupkan kembali emakmu. Kalau memang sudah waktunya mati ya mati. Entah lewat jalan apa itu. Jadi jangan salahkan kami. Kami disini juga butuh penghidupan bung!” jawabnya yang makin membuatku naik darah.
“Jika memang seperti itu, maka matilah yang kalian pilih.” Ancamku.
Dengan berbekal parang yang sejak tadi tergenggam ditanganku, aku berusaha menyerobot untuk menusuk perutnya yang besar bagai alat drumb band yang siap main. Akan tetapi sebelum semuanya kulakukan, dadaku bagai terkena tancapan parang yang kubawa tadi. Akan tetapi parang masih ditangan. Kulihat dadaku, sebutir peluru menusukku. Pandangankupun kabur. Darah mengucur dengan derasnya dibajuku. Rasanya kaki ini tak kuat lagi menopang berat tubuhku yang tak terlalu gendut. Akhirnya dunia ini bagaikan selimut safana yang menaungi lembah kehidupanku. Suara angin surga telah terbisik ditelingaku. Aku melihat bayangan ibu di udara. Seakan mengajakku untuk ikut dengannya. Baiklah ibu, aku ikut denganmu. Aku tak peduli lagi dengan manusia biadab ini. Biarlah tuhan yang membalasnya. Sebelum aku tutup mataku yang terakhir kalinya, aku sempat mendengar gelegar tawa mereka melihatku tersungkur tak berdaya di tanah. Dengan senyum tersungging di bibir aku meninggalkan dunia ini dengan penuh ketenangan.
Asyhadu allaa ilaa ha illallah……. Wa asyhadu anna muhammadar rosuulullah…..
 Selamat tinggal …..
MAN Tambakberas Jombang

0 komentar:

Posting Komentar