Mencabik Luka di Negeri Neraka
Oleh : Roudlotul Dzihni
MAN Tambakberas Jombang
Langit Jogjakarta meraung
bak negeri seribu angkasa. Meratapi setiap jengkal berhasta kuda. Mendung datang
bergulung-gulung seakan hendak menyapu daratan langit yang maha dahsyat
luasnya. Jilatan cahaya putih silih berganti
berebut menyinari daratan muka bumi yang sebenarnya tak dikehendaki
kehadirannya oleh penghuni bumi. Cacing-cacing tanah bersembunyi dibalik
lorong-lorong permukaan daratan bumi yang kian menunjukan kejelataannya. Jangankan Cacing, debupun seakan tak lagi
punya nyali untuk beterbangan menjelajahi atmosfer bumi.
Malam itu mencekam bagai
sangkar burung hantu yang tak memperbolehkan penghuninya untuk keluar.
Begitupun jua denganku,rasanya tak punya nyali walau hanya untuk sekedar
menengok kondisi di luar sana. Yang bisa kulakukan hanyalah duduk di dipan tua
yang telah kupakai sejak beribu-ribu hari yang lalu. Sarung coklat tua yang
setia bersandar miring di pundakku seakan memberikan kesan betapa mirisnya suasana
hatiku malam ini. Kupandangi wanita yang 19 tahun lalu berjuang untuk
melahirkanku dengan perasaan sayang yang luar biasa kepada wanita hebat satu
ini. Dialah ibuku. Kursi roda tua tempat beliau menopang hidupnya juga masih
setia menemaninya. Ibuku memang lumpuh
sejak 15 tahun lalu karena tertimpa batang pohon sewaktu terjadi tanah
longsor di daerahku. Tempatku memang rawan longsor. Setelah tragedi itu, ayahku
tak mau lagi mengurusi kami. Dia pergi tanpa dosa meninggalkan kami. Ayah macam apa dia yang tega meninggalkan
anak dan istrinya yang termangu sendiri. Rumah kami pun tak terlalu strategis
untuk dijangkau. Bagaimana tidak, rumah kami terletak di pinggiran hutan dan di
kelilingi oleh sungai-sungai besar. Dulunya tempat ini memang banyak penduduknya.
Akan tetapi, lama-kelamaan satu-persatu dari mereka pindah ke tempat yang lebih
layak huni. Kebanyakan dari mereka membangun rumah lagi di daerah perkotaan dan
pergi meninggalkan kampung halamannya yang menampung mereka sewaktu kecil.
Mungkin hanya sekitar 8 kepala rumah tangga yang masih sudi untuk menempati
kompleks ini,dan itupun radius sekitar 1 km dari gubukku.
Sewaktu ayahku meninggalkan
kami, aku baru berusia 5 tahun. Tahu soal apa aku umur 5 tahun. Mungkin aku hanya anak kecil
ingusan yang tak tahu dan tak mau tahu mengapa ayahku melenggang pergi.
Jangankan untuk mengingat hal itu, mengingat wajahku waktu itupun aku tak ingat
sama sekali. Ibuku lumpuh, ayah pergi entah dimana. Ya tuhan.... aku tak
membayangkan bagaimana hidupku, hingga aku bisa mencapai usiaku kini. Bagaimana
makanku, bagaimana mandiku, bagimana pakaianku. Ya tuhan, setragis itukah
nasibku dulu?. Menurut cerita ibu, selama kurang lebih satu tahun, tetangga kanan
kiri yang iba melihat ketragisan nasib kamilah yang kadang membantu kami walau
hanya sekedar sebungkus nasi dan selembar uang seribuan.
Malam semakin larut, tetapi
mata ini seakan tak bisa terpejam walau hanya sekedar untuk mendinginkan jiwaku
yang lelah. Kupaksakan mataku untuk terpejam. Dalam lelapku, aku bermimpi
bertemu dengan seorang pak tua mendatangiku yang tiba-tiba memberi petuah
kepadaku. “Wahai anak muda, pergilah kau ke tengah hutan. Datangilah hutan itu
setiap hari selagi kau belum menemukan sesuatu yang merubah hidupmu. Pergilah
kesana, maka kau akan menemukan jati dirimu.” Dan tiba-tiba pak tua tersebut
menghilang dan akupun terkejut dan langsung terbangun.
Fajar telah mengintip di
balik jeruji safana. Matahari seakan masih malu untuk menunjukkan semburat
merahnya. Burung pagi berkicau kesana kemari kian menunjukkan kasan pagi yang
makin mendekati cerah. Tak ketinggalan, ayampun mulai mengobrak-abrik segala
penjuru untuk sekadar mendapatkan cemilan pagi bagi dirinya dan anak-anaknya. Suasana
semalam yang mencekam bagai hilang ditelan ombak dan berganti dengan suasana
pagi yang cerah sebagai awal menjalani proses kehidupan yang kian hari kian
menantang. Kulangkahkan kakiku menuju kamar mandi dan mengambil air wudlu.
Langsung kutunaikan kewajibanku sebagai seorang muslim. Tanpa sadar, pikiranku
melayang pada petuah kakek tua dalam mimpiku. Segeraku meminta izin pada ibuku
dan izin sudah kukantongi. Dan dengan bekal seadanya, kulangkahkan kakiku
menuju hutan tersebut. Udara pagi masih menusuk diselaput kulit ariku. Bulu
kudukku seakan berdiri, bukan karena setan, melainkan karena pori kulitku
seakan yang ingin ambil bagian untuk menikmati udara pagi ini. Deretan
pegunungan makin mempercantik panorama pagi ini. Kicauan burung dan katak
seolah bersahutan untuk memberikan nuansa alami. Sungguh tenang jiwa ini.
Bahkan terbersit benak mengapa orang-orang rela meninggalkan kampung ini demi
perkotaan yang penuh dengan polusi. Jika alasan pekerjaan, bukankah disana
lebih ekstrim. Tanpa kemampuan yang memadai,mereka nekad pergi ke kota dengan
alasan mencari penghidupan yang layak. Mungkin juga banyak dari mereka yang
lebih tragis hidupnya dibanding diriku. Bukankah mereka juga bisa memanfaatkan
hasil alam dari hutan jati disini. Hah... sudahlah, itu urusan mereka.
Sesampainya di hutan,
kulihat batang-batang kayu dan dahan berjatuhan diatas daratan yang tak
berdosa. Daun-daun tua berguguran seakan tak kuat lagi menahan terpaan angin
semalam yang hendak meluluh lantakkan safana. Tiba-tiba terbersit niat untuk
membawanya pulang. Kukumpulkan batang demi batang hingga terkumpullah ikatan
simpul sebongkok kayu. Akhirnya kubawa pulang dan
timbul niatan untuk membangun lagi sepetak gubuk tua dari kayu jati hasilku
mencari di hutan.
“Ibu,
jikalau ibu mengizinkan, aku akan membuat sepetak gubuk lagi di samping gubuk
tua kita ini.” Pintaku pada
ibu.
“Baiklah Afnan anakku, lakukanlah sesuka
hatimu. Tapi ingat pesan ibu, kau tak boleh mengambil lebih dari hutan itu.
Ambillah sesuai kebutuhanmu. Jangan kau rakus pada alam, niscaya alam akan
murka kepadamu.” Petuah ibu kepadaku.
“Baiklah
ibu,nasehatmu adalah penerang dalam hidupku. Afnan izin dulu bu!”
Sedikit demi sedikit
rekonstruksi bangunan rumahku mulai terlihat. Memang tak layak disebut sebagai rumah,melainkan hanya tempat untuk bersandar dari segala
penat,tempat berteduh dari terik matahari dan hujan, serta pelindung dari
serangan binatang buas. Hari demi hari ku lalui. Tetapi aku masih sibuk mencari
reruntuhan dahan pohon yang berjatuhan ditempat usangnya daratan. Dan untuk
memenuhi kebutuhanku dan ibuku, aku memancing ikan, dan hasilnya
kumakan dengan ibuku. Itu sudah cukup bagi kami dari pada harus pergi keluar
kota. Dan aku mulai sadar jika kita bersahabat dengan alam, niscaya alam akan
bersahabat dengan kita. Selama berhari-hari itu pulalah aku tidak ingat sama
sekali dengan kakek dalam mimpiku itu. Apa arti dari perkataannya, dan siapa
yang dimaksud. Tapi aku tak berusaha mencari, aku tak terlalu penasaran dengan
itu. Dan kini prioritas utamaku adalah bagaimana caranya agar aku secepatnya
bisa menyelesaikan pembangunan gubuk baruku. Agar ibuku tak lagi menggigil
kedinginan diwaktu malam. Tak lagi kebocoran jika hujan datang. Semua ini
kulakukan hanyalah untuk ibuku seorang.
Suatu ketika,seperti
biasanya aku pergi ke hutan. Tak seperti biasanya. Aku merasakan hawa hangat
menyelimuti ragaku. Makin dekat radiusnya, makin besar derajat suhu celcius
yang kurasakan. Embun pagi yang dulu menenangkan jiwa bagi insan yang
menghirupnya, kini bagai gas monooksida yang siap menggerogoti kerongkongan.
Rasanya bagai setonggak debu amarah yang membunuh ketenangan kalbu. Fajar di
ufuk timur yang dulu menunjukkan semburat orange alaminya, kini bagaikan
tumpukan infra merah yang menyala dengan terangnya. Aku mulai curiga dengan
keadaan itu. Kuamati dari dekat. Mendekat dan
semakin mendekat. Terlihat truk-truk pengangkut kayu jati berusia puluhan tahun
lalu mengangkut kayu
jati yang tanpa daya pasrah dengan nasib berjejer-jejer bak gulungan molen. Kuterawang
lebih jauh, terlihat sang ajudan yang dengan bangganya mengomandoni pasukan
tikus-tikus jelata yang tanpa ampun membombardir hutan tersebut. Sekilas aku
mencium bau bubuk mesiu yang siap ledak.
Dasar manusia-manusia
biadab. Setelah mengeksekusi dan meluluh lantakkan hutan jati tersebut, ledakan
mesiu yang memekakkan telinga tedengar disegala penjuru. BUMMM...... seketika itu pulalah lagit yang semula masih
sayu akibat matahari yang enggan muncul di pagi buta,menjadi merah bak semburan
sang raja naga yang siap menerkam apapun dihadapannya. Dan ketika itu pulalah
hutan jati bagai lautan api yang tanpa permisi melahap potongan-potongan batang
jati yang masih menyerumbul di permukaan tanah. Biadab.... dasar
manusia-manusia tanpa akal.
Sejenak pikiranku melayang
pada ibuku yang terbaring lemah di dipan usang. Lalu naluriku tersentak. Jiwaku
tergoncang. Ingin rasanya aku di dekat ibu. Akhirnya aku memutuskan untuk
kembali ke rumah. Dengan sekuat tenaga,aku berlari mangarungi lautan asap
akibat ledakan tadi. Suara letupan api dan bau daun gosong mengiringi langkahku
menuju kepangkuan sang bunda. Tak berbeda jauh denganku, burung-burungpun
berhamburan seakan tahu maut telah membayanginya. Tak ku perhatikan
sekelilingku,entah apa yang aku lewati. Pikiranku hanya terpusat pada ibu, ibu,
dan ibu.
Entah seberapa mil aku
berlari mengarungi lautan asap itu. Entah berapa joule energi yang kuhabiskan.
Akhirnya,sampai pulalah aku di gubuk tuaku. Seketika itu pulalah hatiku
menjerit. Pikiranku memekikkan suara kalbu yang tak lagi bernada. Ribuan peluru
bak memenuhi tiap rongga paru-paruku.
IBU.....................
“Dasar manusia biadab,
hewan kalian.... !”.
Kulihat gubuk tuaku telah luluh lantak akibat kobaran api
yang menjilat. Kini tinggal puing-puing sejarah yang meninggalkan bekas yang membuktikan bahwa aku pernah tinggal disini. Kucari ibuku. Tapi tak
kutemui. Ku panggil namanya, tapi tak ada sahutan. Yang ada hanyalah sahutan
daun terbakar di sisi rumah. Bagaimana tidak, gubukku hanya terbuat dari dahan
bekas yang kutemui di hutan. Sekali sulut semua langsung ludes. Aku menemukan
kursi roda yang biasanya digunakan ibuku. Kini tinggal puing. Kucari ibuku,
tapi tak kutemui, yang ada hanyalah cincin emas yang tergeletak didekat kursi
tersebut. Kuamati,tercium bau gosong daging. Aku berspekulasi jika itu adalah
ibuku. Ya tuhan... dia ibuku... kukumpulkan sisa-sisa tulang beliau. Aku
memendamnya didekat gubuk tuaku.
Aku tak terima. Akupun
mendatangi ajudan tadi yang kebetulan masih ada di tempat aku melihatnya. Aku
datang padanya dengan muka tak berbentuk.
“Wahai bangsa kera, tidakkah kalian punya naluri
kemanusiaan. Dasar biadab”. Suaraku dengan lantangnya menantang sang ajudan.
“Wahai anak muda, berani sekali kau berkata seperti itu
pada kami. Siapa kau hingga berani-beraninya berkata seperti itu pada kami”.
“Anda tak perlu tahu siapa saya. Yang perlu anda ketahui, diseberang sana
tempat gubuk saya berdiri, telah anda kotori dengan tangan jahil anda. Yang
lebih membuatku tak terima adalah ibuku, keluargaku satu-satunya yang kau bakar
hingga kini tak berbekas”. Suaraku parau ditengah isak tangisku.
“Oooo... jadi hanya masalah seperti itu yang kau ajukan pada kami.
Heh,bocah tengil. Kami bukan dukun yang bisa menghidupkan kembali emakmu. Kalau
memang sudah waktunya mati ya mati. Entah lewat jalan apa itu. Jadi jangan
salahkan kami. Kami disini juga butuh penghidupan bung!” jawabnya yang makin membuatku naik darah.
“Jika memang seperti itu, maka matilah yang kalian
pilih.” Ancamku.
Dengan berbekal parang yang sejak tadi tergenggam
ditanganku, aku berusaha menyerobot untuk menusuk perutnya yang besar bagai
alat drumb band yang siap main. Akan tetapi sebelum semuanya kulakukan, dadaku
bagai terkena tancapan parang yang kubawa tadi. Akan tetapi parang masih
ditangan. Kulihat dadaku, sebutir peluru menusukku. Pandangankupun kabur. Darah
mengucur dengan derasnya dibajuku. Rasanya kaki ini tak kuat lagi menopang
berat tubuhku yang tak terlalu gendut. Akhirnya dunia ini bagaikan selimut
safana yang menaungi lembah kehidupanku. Suara angin surga telah terbisik ditelingaku.
Aku melihat bayangan ibu di udara. Seakan mengajakku untuk ikut dengannya.
Baiklah ibu, aku ikut denganmu. Aku tak peduli lagi dengan manusia biadab ini.
Biarlah tuhan yang membalasnya. Sebelum aku tutup mataku yang terakhir kalinya,
aku sempat mendengar gelegar tawa mereka melihatku tersungkur tak berdaya di
tanah. Dengan senyum tersungging di bibir aku meninggalkan dunia ini dengan penuh ketenangan.
Asyhadu
allaa ilaa ha illallah……. Wa asyhadu anna muhammadar rosuulullah…..
Selamat tinggal …..
MAN Tambakberas Jombang

0 komentar:
Posting Komentar